JSI Resort bersama Anakita dan Lets Share Peduli Kesehatan Anak

DI sebuah ruangan, anak-anak tampak duduk tenang dengan wajah semringah. Mereka sangat senang dapat berkumpul di aula asrama putri Yayasan Daarul Wasiilah Al Abror. Pasalnya, Minggu (30/9), anak-anak yang merupakan santri pesantren Daarul Wasiilah Al Abror ittu mendapat kesempatan cek kesehatan gratis.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi JSI Resort dengan Anakita dan Lets Share. Acara tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan tanggung sosial perusahaan JSI Resort. Sejak pagi, para santri putra dan putri telah mengantre untuk diperiksa. Para santri merupakan siswa SD hingga SMP.

Di ruangan aula itu, ada tiga area tersedia untuk pemeriksaan. Para santri dipanggil terlebih dulu untuk melakukan registrasi. Selanjutnya akan dilakukan pengecekan berat badan hingga tinggi badan. Saat pemeriksaan, para dokter menanyakan keluhan-keluhan yang dialami. Dokter yang terlibat merupakan relawan dan anggota Lets Share, yayasan kesehatan yang berfokus dalam penanganan anak dengan cacat bawaan lahir.

CSR JSI Resort
Para santri menunggu giliran diperiksa. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

“Kami merupakan yayasan di bawah naungan Yayasan Berbagi Kasih. Kami menyediakan free surgery treatment dan rawat jalan bagi anak-anak yang kurang beruntung,” kata Founder Lets Share Dr Krista Bella kepada Merahputih.com. Kegiatan sosial memang menjadi agenda wajib Lets Share.

Mayoritas para santri memiliki keluhan gatal-gatal dan sakit maag. Menurut Bella, keluhan tersebut biasa terjadi pada anak yang hidup di wilayah pesanteren. Pemeriksaan yang dilakukan juga termasuk pengukuran suhu badan dan tensi tekanan darah. Anak yang tidak memiliki keluhan kesehatan diberikan vitamin C dan B kompleks. “Jadi vitamin untuk daya tahan tubuh saja,” imbuh dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Hermina Kemayoran itu.

Namun, keluhan-keluhan tersebut hanya secara umum. Tetap ada keluhan penyakit lain. Semisal ada santri bernama Dede. Siswi kelas 3 SMP itu mengaku mengalami sakit gigi. Wajar sih, sebab kata Dede ia tak bisa lepas dari hobi memakan cokelat. Hasilnya, ia diberikan obat penahan rasa sakit. “Saya sakit gigi sudah sebulan. Mudah-mudahan saja sembuh,” kata Dede dengan logat Sunda yang kentara.

Di sisi lain, teman Dede yang akrab disapa Erlin juga memiliki keluhan lain. Telah 3 bulan batuk melanda kesehatannya. Maklum, kata Erlin, santri seperti dirinya jarang mendapatkan perhatian orangtua. Ia pun sangat senang dapat pemeriksaan dokter yang datang langsung ke pondok pesantrennya. “Periksa jarang-jarang kan mondok ya, jadi jarang periksa jadi enggak kepantau orangtua,” tutur Erlin kepada Merahputih.com.

CSR JSI resort
Kondisi kesehatan santri juga dicatat. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Dede dan Erlin memang jarang sekali mereka mendapatkan kesempatan diperiksa dokter. Keduanya berharap agar kegiatan seperti itu bisa rutin dilakukan sebulan sekali. “Penginnya mah sebulan sekali supaya kepantau kesehatannya,” harap Erlin malu-malu. Begitu pula Dede, ia mengaku mendapatkan nasihat berharga dari dokter. “Senang banget pokoknya mah. Kata dokter teh jangan banyak makan cokelat,” ujarnya sambil tersenyum manis.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama merupakan santri putri yang berlangsung sejak pukul 09.00-11.30. Sementara itu, santri putra mendapatkan kesempatan diperiksa setelah menjalankan salat zuhur bersama. Para santri putra tidak kalah antusias karena mendapatkan kesempatan itu. Terlihat dari gerak gerik mereka yang tidak sabar mendapat giliran.

Partisipasi Anakita

CSR jSI resort
Dokter memeriksa santri. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Selain Lets Share yang menyediakan pemeriksaan gratis, Anakita juga terlibat dalam aksi kepedulian sosial ini. Organisasi yang didirikan Agustus lalu ini dibuat karena tergerak dan prihatin dengan kondisi kesehatan anak yatim se-Jakarta dan sekitarnya. “Jadi Anakita adalah sebuah organisasi yang memperhatikan kesehatan anak yatim di sekitar Jakarta,” ujar Kiyaranu Putra Pakartiwan, salah satu founder Anakita.

Pria yang akrab disapa Ranu itu mengatakan Anakita memang memiliki tujuan untuk membuat database kesehatan anak-anak, seperti vaksinasi. Dengan begitu, setiap anak secara menyeluruh bisa mendapatkan perhatian dari segi kesehatan.

Kegiatan pada hari itu memang dilakukan bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Anakita sudah melakukan survei di pesantren yang beralamat di Kampung Cidokom 5, Desa Kopo, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, itu. Mereka mendapatkan banyak keluhan penyakit gatal di tempat tersebut. Para santri juga memang jarang mendapatkan pemeriksaan kesehatan. “Anak di sini belum pernah ada medical checkup. Sebagian dari mereka mengeluh gatal-gatal,” tambah Ranu.

CSR JSI Resort
Para santri senang dapat pemeriksaan kesehatan. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Lokasi pesantren juga sangat jauh dari perkotaan. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas Anakita untuk mengadakan kegiatan mulia itu. “Areanya kan jauh dari kota. Jadi susah bagi mereka untuk mendapatkan perhatian medis,” ungkap Renaldi Mulyana, yang juga salah satu founder Anakita.

Untuk itulah, Anakita berkolaborasi dengan JSI Resort, sebuah resor berkonsep off-road milik JHL Group. Sudah kesekian kalinya JSI resort melakukan kegiatan serupa dalam bentuk CSR. JSI Resort memang memiliki target untuk memberikan kesempatan masyarakat sekitar untuk menjadi sehat. “Targetnya lebih ke awareness teman-teman di lingkungan wilayah JSI ini. Kita aware dengan masyarakat sekitar, aware dengan kesehatan, dan masyarakat Indonesia yang lebih sehat,” papar HR Manager Jeep Station Indonesia Indra Haerulsyah kepada Merahputih.com.

Sementara itu, Ketua Yayasan Daarul Wasiilah Al Abror, HE Basoni, merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan seperti ini. Menurut diam kesehatan menjadi modal utama dalam hidup ini. Percuma sukses, tapi memiliki penyakit. “Terima kasih atas kepedulian kepada masyarakat terutama untuk anak-anak yatim. Kalau kita hidup tanpa sehat mungkin tidak ada guna,” paparnya kepada Merahputih.com.

Ia pun berharap kegiatan ini tidak hanya dilakukan satu kali. Perlu ada kegiatan serupa yang kembali dilakukan demi memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak. “Harapan kami kalau kegiatan ini positif tidak ada salahnya untuk ditindaklanjuti,” tukasnya. (ikh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *